Menengok Jejak Perjuangan Para Kiai di Masa Penjajahan

Penulis: Aisya Putrianti
Editor: Cesita Putri Ramadhani

81fde-sinopsis-film-sang-kiaiDunia perfilman tanah air kembali menyuguhi tontonan berkualitas tentang pejuang nasionalisme. Ialah kisah KH Hasyim Asy’ari, pemimpin Pondok Pesantren Tebu Ireng sekaligus ketua Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dan Shumubu (Departemen Agama) pada masa penjajahan Jepang (1942-1945).

KH Hasyim Asy’ari ditangkap oleh pihak Jepang karena dianggap melakukan perlawanan.  Situasi Pondok Pesantren Tebu Ireng yang kehilangan pemimpinnya menjadi kacau.  Demi keselamatan, Nyai Kapu, istri dari KH Hasyim Asy’ari, diungsikan  ke daerah Tengaran.

Sementara itu KH Wahid Hasyim, salah satu anak KH Hasyim Asy’ari, berusaha membujuk pihak Jepang untuk membebaskan ayahnya.  Sayangnya permohonan KH Wahid Hasyim tidak dikabulkan. KH Hasyim Asy’ari malah dipindah berkali-kali ke tiga penjara berbeda.  Perjuangan membebaskan ayahnya tidak sampai di situ, KH Wahid Hasyim meminta pertolongan kepada Abdul Hamid Ono, seorang kenalan keluarga yang berkebangsaan Jepang.

Kemudian KH Wahid Hasyim bersama rekannya, KH Wahab Hasbullah bertolak ke Jakarta untuk mengadakan pertemuan dengan NU untuk membahas pembebasan para kiai. Dicapailah mufakat jalan damai dalam pertemuan tersebut.

Sementara itu, dua orang santri Tebu Ireng bernama Harun dan Kamid mengalami nasib tragis.  Ketika membuntuti tentara Jepang yang menangkap KH Hasyim Asy’ari, Kamid ditembak mati karena kepergok oleh tentara Jepang.  Harun yang tinggal seorang diri memutuskan untuk bergabung bersama militan dengan misi mencuri ransum (bekal makanan) tentara Jepang.

Akhirnya Jepang membebaskan para kiai, termasuk KH Hasyim Asy’ari dengan syarat mereka mau diajak kerja sama.  Kemudian Jepang mendaulat KH Hasyim Asy’ari sebagai ketua Masyumi.  Namun, KH Hasyim Asy’ari lebih memilih menetap di Tebu Ireng. Ia melimpahkan wewenang sebagai ketua Masyumi kepada KH Wahid Hasyim yang berada di Jakarta.

Kelicikan Jepang terbaca ketika mereka meminta Masyumi untuk memberi ceramah kepada rakyat untuk terus menambah hasil bumi.  Melihat situasi ini, kemarahan Harun bangkit.  Ia merasa Masyumi berpihak pada Jepang.  Kemudian ia memutuskan untuk keluar dari pesantren.  Harun tidak tahu bahwa di balik semua itu KH Hasyim Asy’ari telah memiliki rencana besar.

Melihat KH Hasyim Asy’ari yang bisa diajak kerja sama dengan baik, Jepang kembali memilihnya sebagai Ketua Shumubu (Departemen Agama) sekaligus ketua Masyumi. Dengan jabatan tersebut, ia bisa menolak perintah para santri masuk Heiho dan membentuk barisan Hizbullah.

Beberapa bulan setelah kemerdekaan Indonesia, utusan Presiden Soekarno menghadap KH Hasyim Asy’ari membawa pesan soal hukumnya membela tanah air.  Saat itu Indonesia hampir dikuasai lagi oleh Sekutu, maka meletuslah Revolusi Jihad di Surabaya yang melibatkan rakyat, berbagai barisan pemuda, serta para santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah bentukan KH Hasyim Asy’ari.

  • Sutradara : Rako Prijanto
  • Penulis naskah : Anggoro Saronto
  • Genre : Drama, Sejarah
  • Pemain : Ikranagara, Adipati Dolken, Agus Kuncoro Adi, Dayat Simbaia, Christine Hakim, Boy Permana
  • Studio : Rapi Films
  • Tanggal rilis : 30 Mei 2013
  • Trailer :

sumber : iamprasetyo

This entry was posted in Akan Datang. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s