Ketika Gerilya Dipimpin Perempuan

Penulis: Cesita Putri Ramadhani
Editor : Aisya Putrianti
Tjoet Nja' Dhien; Sumber: alicemop.wordpress.com

Tjoet Nja’ Dhien; Sumber: alicemop.wordpress.com

Siapa bilang seorang perempuan tidak bisa memimpin perang gerilya?  Buktinya, ketika zaman kolonial, hal itu lazim terjadi di Indonesia Seperti sosok perempuan dari ranah Aceh ini.

Cut Nya’ Dhien (Christine Hakim) memimpin rakyat Aceh melawan tentara kolonial Belanda. Suaminya, Teuku Umar (Slamet Rahardjo), adalah seorang pejuang yang banyak taktik. Ia pernah berpura-pura melakukan kerja sama dengan pihak Belanda untuk memperoleh senjata dan perlengkapan perang. Setelah memperoleh yang ia butuhkan, Teuku Umar kembali menyerang Belanda. Namun, dalam satu pertempuran di Meulaboh, Teuku Umar gugur.

Sosok Cut Nya’ Dhien tidak hanya piawai dalam memimpin perang dan ahli siasat. Ia tak lupa melaksanakan perannya sebagai istri dan ibu. Meskipun demikian, Cut Nya’ Dhien tidak berlarut-larut dalam rasa kehilangan setelah ditinggal pergi suaminya. Perjuangan Cut Nya’ Dhien terus berlanjut di tanah Meulaboh.

Gerilya pasukan Tjoet Nja Dhien membuat kompeni kewalahan bahkan membahayakan kedudukan mereka di tanah Aceh. Belanda berusaha menangkapnya, tetapi selalu gagal.

Dalam sebuah peperangan, ada saja pihak yang menjadi pengkhianat. Ibarat “Menuhuk kawan seiring, menggunting dalam lipatan”, Teuku Leubeh (Muhamad Amin) membocorkan informasi tentang Cut Nya’ Dhien  kepada Belanda. Ia juga yang menyebabkan Teuku Umar terbunuh.

Bak  “Mati rusa karena jejaknya” pengkhianat Teuku Leubeh mati di tangan pasukan Cut Nya’ Dhien. Bagi Cut Nya’ Dhien tidak ada ampun untuk pengkhianat.

Meskipun semangatnya tak pernah luluh, ia semakin menua dan mulai pesakitan.  Ditambah lagi penglihatannya yang semakin rabun.

Melihat hal itu, Pang Laot (Pitra Jaya Burnama) merasa iba dan ingin menyudahi perjuangan Cut Nya’ Dhien serta membiarkannya untuk beristirahat dari kegiatan perlawanan yang sudahia lakukan bertahun-tahun.

Pang Laot diam-diam mengatur siasat untuk melancarkan niatnya itu. Ia menghubungi pihak Belanda dan bersedia memberi tahu keberadaan Cut Nya’ Dhien  dengan syarat Belanda memberikan tempat dan pelayanan yang layak pada Cut Nya’ Dhien  , serta tidak pernah memisahkan Cut Nya’ Dhien  dari tanah dan masyarakat Aceh.

Namun Belanda mengingkari, Cut Nya’ Dhien justru diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Di tempat pengasingannya itulah, akhirnya Cut Nya’ Dhien wafat dan dimakamkan pada 6 November 1908.

Pendalaman karakter Cut Nya’ Dhien oleh Christine Hakim telah menjadikannya salah satu aktris panutan di dunia perfilman Indonesia. Film yang disutradarai oleh Erros Djarot ini menjadi film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes tahun 1989.

Produser: Handi Muljono, Erros Djarot
Sutradara: Erros Djarot
Penulis: Erros Djarot
Pemeran: Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Hendra Yanuarti, Pitra Jaya Burnama, Rita Zahara, Rudy Wowor, Muhamad Amin, Rosihan Anwar

Sumber referensi:
http://nurulwandaa.blogspot.com/2012/02/resensi-film-tjoet-nja-dhien.html
http://bang-tobing.blogspot.com/2012/12/film-tjoet-nja-dhien.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Tjoet_Nja%27_Dhien_%28film%29
http://salmanitb.com/2011/04/film-tjoet-nja-dhien-kisah-epik-pahlawan-wanita-indonesia/
http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-t013-86-320118_tjoet-nja-dhien#.UasCFVHWnAl
This entry was posted in Nostalgia. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s