Persahabatan Akibat Koran Bekas


Penulis: Cesita Putri Ramadhani
Editor : Gaby Virginia
Image Langitku Rumahku

Sumber: rolfilmblog.blogspot.com

Kisah sederhana yang dikemas secara apik tentang persahabatan dua anak dari kelas sosial yang berbeda dan sisi lain program pembangunan di era Orde Baru.

Film Langitku Rumahku yang diperuntukkan untuk anak ini mengisahkan Andri (Banyu Biru), si anak kaya yang hidup bersama ayah dan kakaknya serta memiliki tiga orang pekerja rumah tangga dan seorang supir. Berkebalikan dengan nasib Andri, Gempol (Soenaryo) adalah anak pemulung yang tiap harinya mengumpulkan kertas bekas dan tinggal di pemukiman kumuh pinggiran Jakarta.

Persahabatan mereka dimulai ketika suatu hari Gempol tengah mengintip kegiatan belajar-mengajar di kelas dari sebuah sekolah. Namun, karena penampilannya yang kumuh, ia dikira pencuri. Tetapi pihak sekolah akhirnya melepaskannya setelah mengetahui bahwa ia datang hanya untuk mencari kertas-kertas bekas di sekolah tersebut. Bahkan, pihak sekolah pun membantu mencarikan dan mengumpulkan kertas untuk dibawa Gempol. Tak terkecuali Andri. Andri membawakan sejumlah koran dan majalah bekas dari rumahnya kepada Gempol. Kemudian dimulailah kisah eksplorasi yang dihabiskan keduanya.

Digambarkan Andri yang penasaran dan senang melihat keseharian Gempol yang bebas bermain, tak seperti dirinya yang kesepian di rumah dan hanya bisa menghabiskan waktu dengan keempat pekerja rumah tangganya. Sebaliknya, Gempol yang beberapa kali diajak ke rumah Andri menginginkan kehidupan enak sebagai orang kaya yang dimiliki Andri. Harapan kontradiktif keduanya itulah yang semakin mempererat hubungan pertemanan mereka.

Petualangan mereka tak hanya mengekplorasi Jakarta, namun berlanjut hingga Madiun, Jawa Timur.

Film ini mencoba mengungkap sisi lain dari program pembangunan pemerintah Orde Baru melalui Rencana Pembanguan Lima Tahun yang oleh versi pemerintah dikatakan telah meningkatkan kesejahteraan, sedangkan pihak yang justru semakin sengsara tidak pernah di-cover oleh pemerintah. Mengutip dari artikel Adrian Jonathan di cinemapoetica.com,
“Mobilitas sosial, seperti yang banyak didengungkan film-film Indonesia waktu itu, hanyalah mitos. Kenyataannya: yang kaya makin kaya, yang miskin offscreen.”

Sutradara: Slamet Rahardjo Djarot

Produser: Erros Djarot, Doddy Sukasah
Penulis: Slamet Rahardjo Djarot, Harry Tjahjono

Pemeran: Banyu Biru; Soenaryo; Pitrajaya Burnama; Yati Sunarjo; Andri Sentanu; M. Rienaldo Thamrin; Zainuddin Idris; Moch. Landing; Wijono Soewardjo; Zubaidah; Soeparmi; Ny. Soetjipto; Untung Slamet

Sumber referensi:

http://cinemapoetica.com/retrospeksi/langitku-rumahku-mobilitas-sosial-itu-cuma-mitos/

http://cinemaque.blogspot.com/2011/03/langitku-rumahku-indonesia1989.html

http://filmindonesia.or.id/movie/review/rev4cf29daf8504e_langitku_rumahku_dan_festival_tiga_benua#.UbbSKlHWnAk

http://id.wikipedia.org/wiki/Langitku_Rumahku

This entry was posted in Nostalgia. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s